Rasa Yang Berjarak


Nuka, malam ini ada waktu luang?” Setelah memikirkannya berulang kali di setiap penghujung hari sebelum terlelap, akhirnya pesan ini akan sampai ke Nuka.

Aku membaca kembali tulisan yang berisi perkiraan tentang apa-apa yang akan terjadi setelah pertemuan dengan Nuka terjadi. Aku menulisnya dengan rapi, justru terlalu rapi, seakan siap menyambut luka baru yang mungkin akan menyapa dan menetap.

Kamu tahu sendiri kalau aku selalu meluangkan waktu untuk bertemu denganmu

Haha iya, aku hanya ingin memastikan Ka

Andai saja Nuka tahu kalau pertemuan kali ini tak lagi sama, bukan lagi tentang pekerjaan sosial yang akan dilakukan bersama, bukan lagi membahas ambisi untuk masa depan, bukan lagi tentang membahagiakan raga lain. Kali ini tentang membantu diri sendiri...

Nuka, di meja biasanya ya”

Aku hanyut dalam pikiran sendiri sembari menunggu kedatanganya. Dari Nuka aku jadi tahu, kalau beberapa yang indah terhayata hadirnya justru dari sebuah kesederhanaan. Nuka selalu sederhana, dan Nuka selalu indah.

Hey Lika

Hey Nuka”

“sudah lama ya?”

“tebak sendiri saja

kalau kamu masih duduk disini nungguin, sepertinya belum terlalu lama. Tidak seperti kali terakhir yang akhirnya kita gagal bertemu hahaha” tebaknya

Ohya, ini kebiasaan aku dan Nuka. Tidak ada kepastian pukul berapa tepatnya kami akan bertemu. Kami hanya mengenal pagi, siang, sore dan malam, mungkin karena sama-sama paham kalau masing-masing kami punya dunia sendiri yang sangat susah megatur pergerakan waktunya.

Jadi apa yang perlu kita bahas malam ini ?” tanya Nuka

Aku meneguk secangkir kopi yang sudah tak lagi hangat, tak ada rasa lain selain  pahit. Apa setelah malam ini duniaku akan seperti kopi ini? Duh, jangan sampai

Oke Nuka, dengarkan ini baik-baik karena aku tidak akan mengulangi lagi”

Baik, silahkan” dia mencondongkan tubuhnya, seakan siap menerima apapun yang akan aku katakan

Nuka, Saya gak tau pastinya kapan, Saya juga gak tau bagaimana semua ini akhirnya bisa terasa. Yang saya tahu, saat saya menatap tepat di manik matamu detik ini, saya punya rasa yang begitu kuat ke kamu. Rasa yang kamu mungkin tidak merasakannya. Jangan bilang saya gila ka, karena setiap malam saya juga merutuki diri sendiri karena menaruh rasa padamu

Lika, bagaimana bisa?

Maaf Nuka” Ucapku menunduk, tak lagi sanggup menatap matanya

Lalu setelah ini kamu akan pergi seperti yang biasa kamu lakukan?” Aku meliriknya, ada sedikit kemarahan yang tergambar di raut wajahnya.

Aku mengangguk, aku menyetujui perkataannya

Saya pikir kamu sudah sedikit mengubah caramu merasa dan berpikir setelah sekian banyak obrolan diantara kita, ternyata kamu masih egois. Selalu ingin menyelamatkan diri sendiri dengan bergegas pergi

Aku marah mendengar ucapan Nuka, aku pikir setelah banyak obrolan diantara kita dia akan bisa memahami, ternyata aku salah

Justu aku tidak ingin egois Nuka, aku pergi. Terima kasih sudah selau menjadi teman baik“

Aku pergi meninggalkan meja yang telah menjadi saksi obrolanku dengan Nuka, Aku pergi meninggalkan Nuka. Tak akan ada lagi temu di meja itu.

Dari berbagai bentuk penyampaian rasa, aku memilih untuk membentang jarak sejauh yang bisa aku upayakan. Kalau ditanya harapan dengan adanya jarak, aku hanya ingin membuat orang yang aku sayangi tumbuh dengan baik. Walau sama saja harus tumbuh dengan luka ciptaanku sendiri. Aku tak pernah bermasalah dengan jarak yang tercipta, aku hanya tak ingin mengatasnamakan rasaku untuk menjadi manusia egois dengan menginginkan ia seutuhnya untuk menjadi milikmu.

Nuka adalah orang kesekian yang aku jadikan alasan untuk bergegas pergi. Setiap orang punya caranya masing-masing dalam menikmati rasa yang hadir, dan caraku adalah pergi dari sisi orang yang aku sayangi.

 

Selamat tinggal Nuka.


Komentar