Aku menatap manik mata indahnya yang berwarna kehangatan. Setelah lama tak bertemu, ternyata ia masi kerap bersikeras menyembunyikan berbagai resah dibalik manik matanya, aku masih mampu melihatnya dengan jelas.
Duduk berdua kali ini pasti masi sama seperti kali terakhir. Ia kerap kali kalut dengan ambisi-ambisi yang ia buat sendiri. Ambisi yang seringnya justru membuat malamnya hanya diisi keresahan semata
"Ohya kamu bagaimana?" Tanyanya di sela-sela mengunyah makanannya, tentunya setelah menyelesaikan cerita tentang mimpi-mimpi yang baginya semakin sulit tuk digapai
Aku meneguk teh hangatku, aku tahu kemana arah pembicaraannya
"Bagaimana apanya?" Aku melanjutkan menguyah makanan tanpa lagi menatap matanya. Berharap ia akan paham, bahwa membuka luka itu justru membuat lukanya menganga
"Ya tugas akhir kamu lah, apalagi coba. Sudah sampai mana?" Tanyanya santai yang membuatku justru tersedak
"Pelan-pelan dong shi, minum dulu" suruhnya
Aku segera meneguk teh hangatku, kali ini untuk menenangkan
Harusnya aku tak lagi seperti ini, bukankah ia memang begitu sejak dulu. Ia benar-benar tidak berubah. Ia masih Raka, Raka yang hanya peduli dengan ambisinya, Raka yang tanpa rasa bersalah selalu kembali datang kala resah menghampirinya, Raka yang tak pernah sadar kalau rasa ini bukan lagi sebatas teman.
Dan aku, aku masih Shira. Shira yang selalu siap menyediakan telinga dan hati untuk mendengar Raka yang dipenuhi keresahan, Shira yang tahu bahwa Raka tak pernah menyiapkan rasa yang lebih untuk dirinya, Shira yang tetap menaruh harapan walau tahu bahwa sebenarnya harapan untuknya sudah tak lagi ada sejak kehadiran perempuan itu
"Shira, are you okay?" Tanya Raka dengan tatap mata penuh perhatian. Dan aku tak pernah suka menghadapinya, karena dengan tatap itu pertahanan yang telah aku bangun akan runtuh dalam sekejap
"Sekali lagi shir. Kuat ya, Seperti biasanya" ucapku dalam hati
"Udah yuk balik aja, anterin aku pulang" pintaku
Raka melihat jam tanganya
"Eh udah jam segini ternyata, yaudah yuk balik. Aku lupa udah janjian sama Key" ucapnya buru-buru
"Emm, okedeh yuk"
Sesampainya dirumah, aku langsung mencari secarik kertas lalu menulis surat untuk Raka
Untuk : Raka
Duduk berdua kali ini pasti masi sama seperti kali terakhir. Ia kerap kali kalut dengan ambisi-ambisi yang ia buat sendiri. Ambisi yang seringnya justru membuat malamnya hanya diisi keresahan semata
"Ohya kamu bagaimana?" Tanyanya di sela-sela mengunyah makanannya, tentunya setelah menyelesaikan cerita tentang mimpi-mimpi yang baginya semakin sulit tuk digapai
Aku meneguk teh hangatku, aku tahu kemana arah pembicaraannya
"Bagaimana apanya?" Aku melanjutkan menguyah makanan tanpa lagi menatap matanya. Berharap ia akan paham, bahwa membuka luka itu justru membuat lukanya menganga
"Ya tugas akhir kamu lah, apalagi coba. Sudah sampai mana?" Tanyanya santai yang membuatku justru tersedak
"Pelan-pelan dong shi, minum dulu" suruhnya
Aku segera meneguk teh hangatku, kali ini untuk menenangkan
Harusnya aku tak lagi seperti ini, bukankah ia memang begitu sejak dulu. Ia benar-benar tidak berubah. Ia masih Raka, Raka yang hanya peduli dengan ambisinya, Raka yang tanpa rasa bersalah selalu kembali datang kala resah menghampirinya, Raka yang tak pernah sadar kalau rasa ini bukan lagi sebatas teman.
Dan aku, aku masih Shira. Shira yang selalu siap menyediakan telinga dan hati untuk mendengar Raka yang dipenuhi keresahan, Shira yang tahu bahwa Raka tak pernah menyiapkan rasa yang lebih untuk dirinya, Shira yang tetap menaruh harapan walau tahu bahwa sebenarnya harapan untuknya sudah tak lagi ada sejak kehadiran perempuan itu
"Shira, are you okay?" Tanya Raka dengan tatap mata penuh perhatian. Dan aku tak pernah suka menghadapinya, karena dengan tatap itu pertahanan yang telah aku bangun akan runtuh dalam sekejap
"Sekali lagi shir. Kuat ya, Seperti biasanya" ucapku dalam hati
"Udah yuk balik aja, anterin aku pulang" pintaku
Raka melihat jam tanganya
"Eh udah jam segini ternyata, yaudah yuk balik. Aku lupa udah janjian sama Key" ucapnya buru-buru
"Emm, okedeh yuk"
Sesampainya dirumah, aku langsung mencari secarik kertas lalu menulis surat untuk Raka
Untuk : Raka
Hari ini, manik mata kita saling menatap kembali setelah 29 hari tak ada temu. Tatapmu selalu bisa menguatkan sekaligus melemahkan di sisi lain Ka. Sudah hampir dua setengah tahun kamu menjalin hubungan dengan Key, selama itu pula hari-hariku hanya berisi bagaimana cara membiasakan diri hidup tanpa lagi ada kamu disisiku.
Melihatmu selalu berbagi segala resahmu padaku, sebenarnya membuatku bertanya-tanya Ka. Apa kenyamanan yang di tawarkan Key tidak cukup? Atau keresahanmu saja yang terlampau besar, hingga membuat kehadiran Key tidak cukup menyelesaikannya?
Raka, aku tidak ingin terus menerus berada di duniamu dan Key. Dua tahun ini ternyata sangat melelahkan. Lelah harus membunuh rasa setiap kali manik mata kita bertemu. Lelah harus merasa bersalah karena memikiki rasa lebih kepadamu, Aku sering sekali bertanya, bagaimana cara berhenti dari semua ini. Kini aku sudah tahu jawabannya ka..
Aku harus pergi dari duniamu, karena bahagia yang kurasakan selama ini hanya delusi. Raka, aku harus pergi untuk mencari bahagia yang nyata. Walau kata orang bahagia bukan dicari melainkan dirasakan, tetap saja aku harus pergi untuk mencari bahagia.
Jaga diri baik-baik, kurangi meresahkan apa yang tak seharusnya diresahkan.
Salam hangat, teman baikmu
Shira
Aku mengambil box kecil dibawah kasurku lalu memasukan surat ini kedalamnya. Aku harap ini menjadi surat terakhirku untuk Raka, aku ingin benar-benar berakhir setelah menulis beepuluh-puluh surat untuk Raka. Mungkin suatu hari entah kapan, box ini akan sampai pada Raka. Ah, tidak-tidak. Box ini tidak boleh sampai di tangannya
*Ting*
Aku membuka pesan baru yang muncul di HP ku
Raka : Shiii, aku kayaknya berniat lebih serius lagi deh sana Key....
Memang benar Ka, sudah saatnya aku bergegas pergi dari duniamu.
Komentar
Posting Komentar