Rana dan Riang

Namanya Rana, seorang kawan lama

Wajahnya terbentuk dari mata yang riang, pipi yang merona, juga senyum yang selalu melekat di bibirnya. Rana gadis ceria yang selalu berhasil menghadirkan nyaman, raganya memancarkan cahaya dengan canda tawanya.

Saya percaya kalau banyak orang diluar sana yang juga takjub dengan Rana yang berkilau. Sampai ada yang pernah bilang katanya kalau dikasih pilihan sama Tuhan, dia ingin hidup sebagai Rana saja.

Rana punya sejuta impian, Rana percaya kalau semua impiannya pasti akan tercapai. Kepercayaan itu yang bikin Rana gak pernah berhenti melangkah. Suatu waktu saya pernah memintanya untuk berhenti dulu karena ia terlihat begitu tertatih, tapi Rana bilang seletih apapun tetap gak ada waktu yang tepat untuk berhenti. Akhirnya saya hanya memintanya untuk istirahat sejanak, ia menyetujuinya. Saya hanya ingin Rana lebih menikmati perjalanan hidupnya

Rana punya sinar terang yang tenang, setidaknya begitu yang terlihat. Namun, bukankah semakin terang cahayanya, semakin gelap jua bayangnya ? Begitu juga dengan Rana. Rana hanya memilih untuk menunjukan cahyanya saja. Bayangan gelapnya dia simpan begitu rapat.

Setelah mengenal Rana lebih dalam barulah saya paham, Rana berjuang begitu keras agar tampak tumbuh dengan sempurna layaknya anak seusianya. Hari-hari saya kemudian di hantui sebuah tanya "Bagaimana bisa ia tetap tumbuh baik sebagai Rana, padahal badai telah memporakporandakan sebagian besar hidupnya" 

Dibalik itu semua, ternyata Rana adalah gadis yang merana setiap harinya, sejak dahulu entah sampai kapan

Rana, Gadis kecil yang berlindung di dalam rumah yang sudah sejak lama tak lagi ramah padanya. Rumah yang tak lain hanya sekadar bangunan semata. Tak ada lagi kebahagian yang terhidang di meja makan, hanya tersisa kesunyian di balik tudung saji. Rana dipaksa bumi tuk meracik bahagianya sendiri di dapur tua dengan bahan dapur seadanya. Rana kecil belum mahir meracik, sering sekali ia meracik sengsara lalu menelannya sendirian. Berulang seperti itu...

Rana tumbuh dengan sayap yang tak sempurna, sayap yang seharusnya membuat rana bernafas dengan aman sudah sejak lama patah. Tak ada lagi pelukan kala Rana menangis tersedu di penghujung malam. Tak ada lagi pegangan kala Rana menemui gagal  dalam perjalanan hidupnya. Hanya tersisa dinding coklat tua untuk Rana menyandarkan keluh.

Salah satu sayap Rana telah lama terbang meninggalkannya dan hidup Rana tak pernah baik-baik saja sejak kehilangan sayap. 

Rana, pasti tak mudah bukan untuk tetap bertahan saat rasanya tak ada lagi alasan tuk tetap berpijak di muka bumi ini?
Rana, bukankah sulit harus memasang senyum manis setiap paginya padahal di penghujung malam tangis begitu susah kau hentikan?

Pada akhirnya saya tahu alasan semesta menyebutnya Rana, Rana yang memiliki makna Riang. Semesta seakan mendoakan agar Rana selalu riang, walau dengan rumah yang tak ramah dan sayap yang tak lengkap.

Terima kasih Rana sudah tumbuh sebaik Rana hari ini, senang sekali bisa melihatmu bersinar. Semoga langkahmu dikuatkan setiap harinya sampai nanti sejuta impianmu bisa tercapai satu demi satu. Jauh di sana, patahan sayapmu akan turut gembira melihat Rana yang kini mahir meracik bahagia.


Komentar